Maaf Anda Tersesat!

Coba lagi. Jangan menyerah!

Selasa, 15 November 2011

Surat (Terbuka) Untuk SangSek


Assalamu alaikum wr.wb.
Bagaimana kabarmu Sangsek? Yah, panggilan itu mulai terbiasa di lidahku ketika akhir Juni  2011. Dimana ketika kita semua berada di ruangan yang bertabur jutaan harapan. Ketika itu sungguh dipikiranku bergulat antara ekspektasi dan dumba’dumba’. Kuharap kabarmu tak lagi menisbahkan dirimu sebagai lazy hehehehehhe. Karena kuyakin selalu ada banyak hal yang tidak kau ungkapkan tetapi tangan dan kakimu yang menggantikan peran lidahmu.
Masih jelas di ingatanku ketika di suatu pagi depan rumah kecil, kita mulai bercengkrama mengenai nasib rumah kecil yang dipenuhi berjuta harapan dan impian-impian. Waktu itu kuminta dirimu untuk tetap berada disampingku ketika rumah kecil ini diterpa badai, hujan, gempa, atau saat rumah ini sedang ‘kotor’ dan tak ada lagi yang berinisiatif ‘menyapunya’. Ku tahu saat itu engkau merasakan apa yang kurasakan ketika disuatu ruangan yang dipenuhi orang-orang yang punya banyak harapan, ya..pasti engkau dumba’dumba’, hehehehe..saat itu engkau hanya tersenyum dan sesekali menggelengkan kepala menandakan engkau ragu menyatakan YA!.
Ya….sampai saat ini engkau belum menyatakan YA!..tetapi hingga detik inipun engkau masih setia ketika hanya kita yang berada di rumah kecil itu sedang kosong. Tangan dan kakimu memang selalu menggantikan peran lidahmu. Heheheh. Akhirnya 5 bulan lebih engkau tetap setia, walupun kadang kata lazy masih engkau ‘agung’kan. Heheheh.
Kutahu, kadang pertemuan kita singkat atau sengaja disingkatkan oleh kedua belah pihak..heheheh, sesuai dengan strategi kita, engkau konsen ‘menjaga’ rumah,dan aku konsen lari dari rumah..heheheheh..namun, ku mohon bagi lah masalah-masalah rumah kecil itu, jangan engkau tamping sendiri di kepalamu yang tidak besar itu…rumah kecil itu milik semua orang yang pernah dan akan tinggal disitu, jadi ketika rumah kecil itu bermasalah pasti semua akan ingin mendengar dan bersama menjaga rumah kecil itu. We will never walk alone
Rumah ini dibangun dari serpihan-serpihan spirit yang kemudian menggunung namun kadang tak terlihat. Spirit itu lah yang mendasari kita untuk tetap bergerak melawan kapitalisme yang telah merampas ide-ide kita. Yakinlah yang kita lakukan adalah ibadah dan jangan terlalu cepat ‘mengutuk’ ketika tak banyak yang sepaham dengan indahnya dunia yang kita impi-impikan. Don’t blame the victims, itulah pesan kak Bob, jangan pernah menyalahkan pengurus yang lebih mementingkan urusan pribadinya, maba yang masih belum melihat indahnya dunia yang kita tawarkan, hingga mahasiswa lain yang masing mengamini keadaan dunia sekarang. Mereka semua hanyalah korban dari kapitalisme yang merampas ide-ide imajinatif. Waktu kita bukan untuk dihabiskan menangisi keadaan flat nya dunia ini. Akan lebih baik kita melihat dari ‘dua mata’ dan menyajikan alternative yang kaya akan ide-ide imajinatif. Melarang orang ke mall, makan di Mcd, dan hanya tidur di kosan memang bukan solusi yang solutif, mangapa tidak kita lawan dengan barbagai ide-ide kita?..
Jangan pernah takut untuk berkarya! Teruslah berlari dan menari….terima kasih tetap menjaga rumah kecil ini dan mohon bantuannya SangSek, Sang Sekertaris….
Selamat menua namun keep spirit……

Keika kampus merah kosong dan isi rumah telah kita selamatkan
Tulisan ini adalah hadiah untukmu SangSek….
161111

1 komentar: